Pengelasan kapal
Mengingat
kapal medianya adalah air sebagai sarana transportasinya. Maka keterampilan
pengelasan sangat dimaksimalkan. Lebih banyak ditemui kerusakan pada sisi kapal
bagian bawah yang berhubungan langsung dengan air. Sehingga posisi pengelasan
pun lebih sering pada posisi atas kepala. Keselamatan kerja pun adalah sesuatu yang
urgent. Hantaran listrik pada air memungkinkan penggunaan jenis mesin las yang
digunakan.
![]() |
![]() |
||
Gambar pengelasan bawah air &
pengelasan posisi atas kepala
Adapun teknik pengelasan yang digunakan pada kapal baik
merekonstruksi ataupun perbaikan badan kapal yaitu :
1. Teknik
pengelasan Bawah Air
Teknik pengelasan
basah bawah air merupakan teknik pengelasan yang banyak diaplikasikan. Ada
beberapa keuntungan yang didapat dari teknik pengelasan ini, diantaranya adalah
biaya yang relatif lebih murah dan persiapan yang dibutuhkan jauh lebih singkat
dibanding dengan teknik yang lain, namun ada hal-hal lain yang mesti
dipertimbangkan sebelum mengaplikasikannya.
2. Teknik
pengelasan Busur listrik
Penggunaan teknik ini hanya digunakan pada bagian
konstruksi kapal tanpa kontak langsung dengan media air. Mengingat resiko kerja
yang akan dihadapi karena arus listrik yang berhubungan langsung dengan air.
Tahapan-tahapan
persiapan yang perlu dilakukan dan hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam penanganan mesin las busur listrik arus bolak balik meliputi
:
a.
Pemeriksaan sirkuit utama.
Pemeriksaan sirkuit
utama mesin las dengan
langkah-langkah sebagai
berikut :
1. Yakinkan bahwa saklar tenaga
dalam keadaan mati (off ).
2. Periksa sambungan kabel las bila ada yang lepas.
3. Periksa isolasi sambungan antar kabel dan yakinkan bahwa
isolasi sambungan dalam keadaan
aman.
4. Periksa bahwa kabel ground dalam keadaan tertanam
b.
Pemeriksaan sirkuit bantu
Pemeriksaan
sirkuit bantu dan pemasangan elektrode las dengan
pemeriksaan sebagai berikut :
1.
Periksa sambungan kabel las yang terlepas.
2.
Periksa isolasi sambungan kabel.
3.
Sambungkan kabel ground dengan meja kerja pada posisi
yang aman dari gerakan.
4.
Periksa kebenaran penyambungan kabel.
5.
Masukan elektrode kedalam penjepit pada kemiringan
yang benar
c.
Persiapan tang ampere
Sebelum mesin
las dipergunakan dengan sebenarnya
terlebih
dahulu perlu menyiapkan tang amper dan
lakukan :
1.
Putar dial pengatur
pada posisi yang optimal.
2.
Lewatkan kabelnya dengan aman ditengah-tengah
penjepitnya.
d.
Pengaturan arus.
1.
Hidupkan Saklar tenaga.
2.
Hidupkan Saklar mesin las (On ).
3.
Putar tuas pengatur amper untuk pengaturan ampere
yang benar atau sesuai yang dikehendaki.
4.
Lakukan sentuhan antara elektrode dengan material dasar untuk mengetahui pengisian aliran arus listrik yang terjadi.
5.
Periksa optimalisasi arus dengan menggunakan tang amper.
6.
Matikan saklar mesin las ( Off )
3.
Teknik pengelasan GMAW / FCAW
Tahapan
yang perlu dilakukan dan hal-hal penting
yang harus diperhatikan meliputi :
1. Periksa kabel input dan terminal
sambungannya. Yakinkan bahwa semua dalam kondisi baik.
2. Periksa kabel output dan terminal sambungan
(terminal sambungan positif (+) ke wire feeder, terminal sambungan negatif (-) ke meja kerja. Yakinkan bahwa semua dalam kondisi
baik.
3. Periksa sambungan selang
gas, kabel switch
torch, kabel power
dan kabel wire feeder.
4. Periksa ukuran roll wire feeder.
Yakinkan roll sesuai dengan ukuran
kawat yang digunakan (misal Ø 1,2)
5. Bongkar / lepas corong
gas, mulut lubang
gas dan ujung kontak dari torch las.
6. Pasang kawat elektroda
misal Ø 1,2 pada roll wire feeder.
7. Putar posisi “ON” pada power switch utama.
8. Tekan tombol pada kotak remote kontrol atau torch switch sampai
kawat muncul
pada
kontak
tip
di
torch
las.
9. Periksa ujung
kontak,
lubang
mulut
corong
gas
dan
gas
alat
pemercik. Yakinkan bahwa semuanya
dalam kondisi baik.
10. Pasang kembali Ujung kontak, lubang mulut
gas dan corong gas.
11. Pasang regulator gas CO2 pada botol gas CO2. Pasang kabel
power untuk pemanas dan sambungkan selang gas.
12. Buka katup botol gas. Setel katup kontrol tekanan gas sampai
tekanan gas mencapai 2 - 3 Kg /
cm2.
13. Putar “switch gas check” ke Pengecekan. Buka katup kontrol aliran
gas dan atur sampai aliran gas 15
ȱ / menit.
14. Setelah penyetelan besarnya aliran gas , putar kembali “switch gas
check” ke “AUTO”.
15. Putar tombol arus dan voltage ke posisi tengah-tengah.
16. Nyalakan busur dengan menekan torch switch “ON” pada plat baja.Yakinkan bahwa semuanya
berfungsi dengan baik.
4. Teknik Pengelasan TIG
Tahapan penyetelan yang perlu dilakukan
dan hal-hal penting yang harus diperhatikan meliputi
:
1.
Pemilihan arah saklar pada pengelasan argon,Pasang/letakkan tombol pilihan pengelasan argon/manual pada posisi argon untuk
proses las GTAW.
2.
Pilih arus yang digunakan, AC atau DC.
a.
Pilih AC/DC sesuai
dengan material yang akan dilas.
b.
Jika dipilih DC, periksa
dan yakinkan elektrode positif.
3.
Hidupkan tombol main power/power utama.Yakinkan bahwa lampu penunjuk
menyala.
4.
Hidupkan saklar kontrol.
5.
Pilih metode pendinginan.
a.
Setel saklar pendingin ke posisi pendinginan air.
b.
Buka kran aliran
air.
c.
Yakinkan bahwa lampu penunjuk
dari pendinginan air menyala.
6.
Atur banyaknya aliran
gas.
a.
Setel saklar pemeriksaan gas pada posisi pemeriksaan.
b.
Buka katup pengatur
indikator aliran gas.
c.
Atur banyaknya aliran
berdasarkan lembar informasi.
d.
Setel saklar pemeriksaan gas pada posisi pengelasan.
7.
Atur saklar pemilihan pengisian kawah las pada posisi
“NO filling” Setel saklar
kawah pada posisi
“NO filling”.
8.
Setel after-flow
Letakan posisi tombol after flow sesuai dengan diameter elektrode yang digunakan.
5.
Teknik pengelasan
SAW.
1.
Sebelum proses pengelasan terlebih dahulu perlu dilakukan penanganan terhadap mesin las,penyiapan peralatan dan melengkapi diri dengan alat pelindung diri (APD).
2.
Proses
pengelasan dengan las busur listrik didahului dengan mengatur posisi tubuh kemudian dilanjutkan dengan proses penyalaan busur, menjalankan dan menghentikan / mematikan busur.
3.
Dalam belajar las, melakukan pengelasan
awal berupa pelelehan, pembuatan manik – manik las lurus dan pembuatan
manik – manik las dengan mengayun.
4.
Selain memperhatikan ketentuan dalam proses pengelasan, hal yang tak kalah pentingnya adalah pada saat menyambung
manik – manik las.
5.
Setiap akhir pengelasan dan sebelum proses
lanjutan penyambungan perlu melakukan pembersihan terak dan percikan las terlebih dahulu.
6.
Proses pengelasan sambungan
tumpul
tanpa
penahan
belakang dimulai dari penyiapan posisi material yang akan disambung,
dilanjutkan dengan penyetelan dan menahan dengan las ikat kemudian dimulai dengan pengisian kampuh las.
7.
Kelancaran proses pengelasan dipengaruhi oleh kesiapan darimesin las, untuk itu perlu
diperhatikan dan dilakukan tindakan sebagai
berikut : c Periksa sirkuit utama
dan sirkuit bantu, d Persiapkan tang amper dan pasangkan melewati kabel arah holder, e Atur
arus
sesuai besaran yang dipersyaratkan menurut penggunaan elektrode, f Lengkapi diri anda dengan alat pelindung
diri
dan siapkan
peralatan seperlunya.
8.
Posisi tubuh yang benar dan stamina yang prima pada saat mengelas akan menunjang kesempurnaan
hasil pengelasan,untuk itu disarankan bagi seorang juru las untuk selalu berlatih
dan menjaga kesehatan dengan extra
fooding.
9.
Pada prinsipnya mengelas merupakan
proses pengaturan busur las
pada benda kerja yang disambung agar pada saat logam isi meleleh menempati posisi yang dikehendaki dan menghindari terjadinya cacat– cacat pengelasan.
10. Pengelasan
GMAW
/
FCAW
merupakan
jenis
pengelasan
yang
mempunyai faktor efisiensi yang besar bila digunakan
untuk mengelas konstruksi, mengingat seorang juru las dapat melakukan
proses pengelasan sampai pada batas ketahanan juru las tersebut dengan tidak perlu
mengganti logam pengisi.
Selama
masa pengelasan pada kapal, kapal akan membutuhkan beberapa intervensi bawah
air untuk perawatan, perbaikan atau perubahan seperti :
1.
Penguatan
untuk resertifikasi struktur yang telah habis design life-nya.
2.
Perbaikan
karena kesalahan design.
3.
Perbaikan
karena kerusakan yang disebabkan oleh :
·
Kesalahan
pada saat instalasi.
·
Insiden,
misalkan tertabrak kapal, badai, kejatuhan benda dari atas dek, dsb.
·
keretakan
pada sambungan karena keadaan lingkungan (ombak, angin)
4.
Penambahan
struktur karena adanya perubahan operasi ( pemasangan riser clamp, caisson, dsb
).
5.
Pemasangan
anode.
Untuk intervensi diatas, ada
beberapa teknik yang umum dipakai seperti :
~ Grinding out cracks
~ Clamps
~ Grout filling
~ Pengelasan hyperbaric
~ Pengelasan bawah air
Adapun
kendala pada pengelasan bagian bawah kapal yang lansung kontak dengan
air,yaitu:
·
Air
di sekitar area pengelasan menjadi mendidih dan terionisasi menjadi gas oksigen
dan hidrogen. Sebagian gas ini melebur ke area HAZ tapi sebagian besar lainnya
akan mengalir ke udara. Bila aliran ini tertahan, maka akan terjadi resiko
ledakan yang biasanya membahayakan penyelam.
·
Tingginya
resiko hydrogen cracking di area HAZ terutama untuk material yang mempunyai
kadar carbon equivalent lebih tinggi dari 0.4%.
·
Sifat
hasil pengelasan juga memburuk dengan bertambahnya kedalaman, teruatama
ductility dan toughness (charpy impact)
Teknik dalam pengelasan kapal
dan mutu elektroda
Beberapa teknik pengelasan
kapal maupun mutu elektroda, seperti :
1.
Hydrogen
cracking dan hardness di area HAZ bisa diminimalisasi atau dihindari dengan
penerapan teknik multiple temper bead (MTB). Konsep dari teknik ini adalah
dengan mengontrol rasio panas (heat input) diantara lapisan lapisan bead
pengelasan. Untuk mengontrol panas ini, ukuran bead pada lapisan pengelasan
pertama harus 'disesuaikan' sehingga penetrasi minimum ke material bisa
didapat. Begitu juga untuk lapisan yang kedua dan seterusnya. ada tiga
parameter yang mempengaruhi kualitas pengelasan dalam penerapan MTB ini, yaitu
: jarak antara temper bead, rentang waktu pengelasan dan heat input.
2.
Teknik
buttering juga bisa digunakan terutama untuk material dengan CE lebih dari
0.4%. Elektroda butter yang digunakan bisa elektroda yang punya oxidizing agent
atau elektroda thermit.
3.
Pemakain
elektroda dengan oxidizing agent. agent ini akan menyerap kembali gas hidrogen
atau oksigen yang terserap di HAZ.
4.
Pemakaian
thermit elektroda juga bisa digunakan. Elektroda jenis ini akan memproduksi
panas yang tinggi dan pemberian material las (weld metal) yang sedikit sehingga
mengurangi kecepatan pendinginan dari hasil pengelasan oleh suhu di sekitarnya
sehingga terjadi semacam proses post welding heat treatment.
5.
Elektroda
berbasis nickel bisa menahan hidrogen untuk tidak berdifusi ke area HAZ. hanya
sayangnya hardness di area HAZ masih tinggi dan kualitas pengelasan hanya baik
untuk kedalaman sampai 10 meter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar